Menyelami Hikmah Bulan Muharam: Peristiwa Bersejarah, Keutamaan, dan Amalan Utama Pendahuluan Bulan Muharam bukan sekadar penanda bergantin...
Menyelami Hikmah Bulan Muharam: Peristiwa Bersejarah, Keutamaan, dan Amalan Utama
Pendahuluan
Bulan Muharam bukan sekadar penanda bergantinya angka tahun dalam kalender Hijriah. Bagi seorang Muslim, Muharam adalah momentum spiritual yang sarat akan makna, refleksi, dan pembersihan jiwa. Dinamakan "Muharam" yang berarti "yang diharamkan" atau "yang disucikan", bulan ini membuka lembaran baru tahun dengan panggilan untuk meningkatkan ketakwaan dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan. Memahami hikmah di balik bulan mulia ini menuntun kita untuk tidak melewati hari-harinya begitu saja, melainkan mengisinya dengan kesadaran penuh sebagai hamba Allah SWT.
Peristiwa-Peristiwa Bersejarah di Bulan Muharam
Bulan Muharam menyimpan memori kolektif umat Islam dan umat-umat terdahulu mengenai kemenangan kebenaran atas kebatilan. Berdasarkan literatur sejarah Islam, salah satu rujukan utama yang merangkum peristiwa ini adalah kitab Al-Bidayah wan Nihayah karya Al-Hafiz Ibnu Katsir.
Dalam kitab tersebut, salah satu peristiwa paling ikonik yang terjadi pada bulan Muharam (khususnya hari Asyura) adalah diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun, serta tenggelamnya Firaun di Laut Merah.
bnu Katsir menukil hadis riwayat Al-Bukhari yang mengisahkan saat Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah:
"Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, 'Hari apa ini?' Mereka menjawab, 'Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu Musa berpuasa pada hari itu.' Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.' Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa." (Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid 4).
Selain itu, dalam berbagai literatur sejarah seperti kitab Lathaif al-Ma'arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali, disebutkan beberapa peristiwa penting lain yang terjadi pada bulan Muharam bagi para nabi terdahulu (meski sebagian kisahnya memiliki jalur periwayatan yang beragam), di antaranya:
1. Bertambatnya bahtera Nabi Nuh AS di bukit Judi setelah banjir besar reda.
2. Diterimanya taubat Nabi Adam AS oleh Allah SWT.
3. Keluarnya Nabi Yunus AS dari perut ikan paus.
Keutamaan Bulan Muharam dan Tanggal 10 Muharam (Asyura)
1. Keutamaan Bulan Muharam Secara Umum
Muharam adalah salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram/mulia) di mana amal saleh dilipatgandakan pahalanya, dan kemaksiatan dosanya menjadi lebih besar.
• Dalil Al-Qur'an (QS. At-Taubah: 36):
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Terjemahan: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu..."
• Dalil Hadis Nabi SAW:
Rasulullah SAW menyebut Muharam sebagai "Syahrullah" (Bulan Allah), sebuah penyandaran (idhafah) yang menunjukkan kemuliaan khusus.
Teks Asli Hadis:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ
Rawi: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, Jilid 2, Kitab al-Shiyam.
Terjemahan: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharam."
2. Keutamaan Tanggal 10 Muharam (Hari Asyura)
Hari kesepuluh bulan Muharam memiliki keistimewaan luar biasa, terutama dalam hal penghapusan dosa setahun yang lalu melalui ibadah puasa.
• Dalil Hadis Nabi SAW mengenai Puasa Asyura:
Teks Asli Hadis:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Rawi: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Abu Qatadah RA, dalam Shahih Muslim.
Terjemahan: "Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia dapat menghapuskan dosa setahun yang berlalu."
Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun
Doa akhir dan awal tahun ini populer diamalkan di kalangan umat Islam lintas generasi. Salah satu rujukan teks doa ini dapat ditemukan dalam kitab Kanzun Najah was-Surur fi Ad'iyatin Tasyrahus Shudur karya Syaikh Abdul Hamid al-Quds (Ulama garis keturunan Arab yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram).
1. Doa Akhir Tahun
Waktu Membaca: Dibaca pada hari terakhir bulan Dzulhijjah (akhir tahun), tepatnya setelah shalat Ashar sebelum masuk waktu Maghrib (karena pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai saat matahari terbenam/Maghrib). Dibaca sebanyak 3 kali.
اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هٰذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلٰى عُقُوبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرْأَتِى عَلٰى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْ لِى، وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّٰهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَا الْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Artinya:
"Ya Allah, segala amal yang aku lakukan pada tahun ini dari apa yang Engkau larang bagiku, lalu aku belum bertaubat darinya, Engkau tidak meridhainya, tidak melupakannya, dan Engkau berlemah lembut kepadaku setelah kuasa-Mu untuk menghukumku, serta Engkau menyeruku untuk bertaubat darinya setelah keberanianku bermaksiat kepada-Mu; maka sesungguhnya aku memohon ampunan-Mu, maka ampunilah aku. Dan segala amal yang aku lakukan di tahun ini dari apa yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala kepadanya, maka aku memohon kepada-Mu, ya Allah, duhai Dzat Yang Maha Mulia, Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, agar Engkau menerimanya dariku, dan janganlah Engkau memutus harapanku kepada-Mu, duhai Dzat Yang Maha Mulia. Semoga Allah Ta'ala mencurahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya."
2. Doa Awal Tahun
Waktu Membaca: Dibaca pada malam satu Muharam, tepatnya setelah melaksanakan shalat Maghrib. Dibaca sebanyak 3 kali untuk memohon perlindungan dan keberkahan sepanjang tahun yang baru.
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيمُ الْأَوَّلُ، وَعَلٰى فَضْلِكَ الْعَظِيمِ وَجُودِكَ الْمُعَوَّلِ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَجُنُودِهِ، وَالْعَوْنَ عَلٰى هٰذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوءِ، وَالِاشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفٰى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Artinya:
"Ya Allah, Engkau Dzat Yang Abadi, Yang Qadim (tanpa permulaan), Yang Awal. Atas karunia-Mu yang agung dan kemurahan-Mu yang menjadi sandaran, dan ini adalah tahun baru yang sungguh telah datang. Aku memohon kepada-Mu perlindungan di tahun ini dari setan, kekasih-kekasihnya, dan bala tentaranya. Dan aku memohon pertolongan (untuk unggul) atas nafsu yang memerintahkan keburukan ini, serta kesibukan dengan apa saja yang bisa mendekatkanku kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya, duhai Dzat Pemilik Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah Ta'ala mencurahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya."
Amalan-Amalan Malam Satu Muharam
Menghidupkan malam satu Muharam disarankan diisi dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berdasarkan arahan para ulama dalam kitab-kitab amalan harian, seperti I'anatut Thalibin karya Syekh Abu Bakar Syatha, beberapa amalan yang dianjurkan meliputi:
Membaca Doa Awal Tahun: Seperti yang telah dipaparkan di atas, dibaca setelah Maghrib.
Melakukan Shalat Sunnah Lidaf'il Bala (Tolak Bala) atau Shalat Hajat: Bermunajat agar diselamatkan dari marabahaya di tahun yang baru.
Membaca Ayat Kursi: Sebagian ulama menganjurkan membaca Ayat Kursi sebanyak 360 kali pada malam atau hari pertama Muharam dengan basmalah di setiap awalnya sebagai benteng diri.
Membaca Shalawat Nabi: Memperbanyak shalawat sebagai tawasul agar doa-doa di awal tahun diijabah.
Muhasabah (Introspeksi Diri): Duduk merenungi dosa-dosa setahun lalu dan berazam (bertekad kuat) untuk memperbaiki diri di tahun baru.
Hari Asyura (10 Muharam) adalah salah satu hari paling sakral dalam kalender Hijriah. Para ulama terdahulu, seperti Syekh Abdul Hamid al-Quds dalam kitab Kanzun Najah was-Surur dan Syekh Abdul Rahman al-Shafuri dalam Nuzhatul Majalis, telah merangkum berbagai amalan serta doa khusus yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada hari tersebut.
Berikut adalah panduan lengkap mengenai amalan utama dan teks doa 10 Muharam (Asyura) beserta artinya:
Amalan Utama pada Hari 10 Muharam
Ada 12 amalan yang kerap diringkas oleh para ulama pada hari Asyura, namun beberapa yang paling utama dan memiliki landasan dalil yang kuat adalah:
Berpuasa (Puasa Asyura): Menghapus dosa setahun yang lalu. Sangat dianjurkan didahului dengan puasa Tasu'a (9 Muharam) untuk membedakan diri dari tradisi kaum Yahudi.
Melapangkan Nafkah Keluarga: Memberikan makanan yang lebih enak atau membelikan kebutuhan ekstra untuk istri dan anak-anak. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang melapangkan nafkah keluarganya di hari Asyura, Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun itu.
Menyantuni Anak Yatim: Mengusap kepala mereka dengan penuh kasih sayang dan memberikan sedekah/santunan materiil.
Bersedekah kepada Fakir Miskin: Memperbanyak berbagi rezeki kepada sesama yang membutuhkan.
Memperbanyak Zikir, Shalawat, dan Silaturahmi.
Zikir dan Doa Hari 10 Muharam (Asyura)
Pada hari kesepuluh Muharam, umat Islam dianjurkan untuk membaca zikir pelindung, disusul dengan membaca doa Asyura.
1. Zikir Khusus Hari Asyura (Dibaca 70 Kali)
Sebelum membaca doa panjang, bacalah zikir ini sebanyak 70 kali:
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
Cara membaca (Transliterasi):
Hasbunallâhu wa ni’mal wakîl, ni’mal maulâ wa ni’man nashîr.
Artinya:
"Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong."
2. Teks Doa Panjang Hari Asyura (Dibaca 7 Kali)
Setelah selesai membaca zikir di atas sebanyak 70 kali, bacalah doa di bawah ini sebanyak 7 kali:
سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ. لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلَّا إِلَيْهِ. سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا، أَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَهُوَ حَسْبِيْ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Subhânallâhi mil-al mîzâni wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridhâ wa zinatal ‘arsyi. Lâ malja-a wa lâ manjâ minallâhi illâ ilaih. Subhânallâhi ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimâtillâhit tâmmâti kullihâ. As-alukas salâmata bi rahmatika yâ arhamar râhimîn. Wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘adhîm. Wa huwa hasbî wa ni’mal wakîl ni’mal maulâ wa ni’man nashîr. Wa shallallâhu ta’âlâ ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallama taslîman katsîrâ.
Artinya:
"Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sepuncak ilmu, sebatas rida, dan seberat arsy. Tidak ada tempat berlindung dan tempat menyelamatkan diri dari Allah kecuali kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak seluruh kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Aku memohon keselamatan kepada-Mu dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dialah yang mencukupi aku dan Dia sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong. Semoga Allah Ta'ala mencurahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya dengan keselamatan yang berlimpah."
Kapan Waktu Mengamalkannya?
Puasa Asyura: Dilaksanakan pada siang hari tanggal 10 Muharam (sejak terbit fajar hingga terbenam matahari).
Membaca Zikir dan Doa: Waktu terbaik untuk membaca rangkaian zikir dan doa Asyura di atas adalah pada pagi hari setelah shalat Shubuh, atau setelah shalat Ashar sebelum Maghrib pada tanggal 10 Muharam. Namun, doa ini tetap boleh dibaca kapan saja sepanjang hari kesepuluh tersebut.
Penutup
Bulan Muharam adalah gerbang waktu yang Allah SWT sediakan bagi hamba-Nya untuk melakukan transformasi spiritual. Melalui deretan peristiwa bersejarah para nabi, kita diajarkan tentang optimisme bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi orang-orang yang bertakwa. Dengan mengamalkan doa akhir dan awal tahun, serta menghidupkan amalan-amalan utama di malam pertama dan hari kesepuluh (Asyura) berdasarkan rujukan-rujukan sahih para ulama, kita berharap tahun baru ini berjalan di bawah naungan ampunan, perlindungan, dan berkah melimpah dari Allah SWT. Semoga kita diberi keistiqamahan untuk terus memperbaiki diri. Amin.

